Rabu, 15 Juli 2015

Edisi Penutupan Ramadhan: Tafakkur Dari Robot

Logika dan sains membawa kita hanya A ke B tapi imajinasi bisa membawamu kemanapun kata Einstein. Itu betul-betul terjadi sekarang saat science dan art sangat tidak jelas bedanya, dimana batas antara fiksi dan non fiksi sudah semakin bias. Lahirnya star wars, starship troopers, gundam, transformers adalah sebab khayalan kreatornya. Tapi percaya atau tidak imajinasi seni mereka menjadi imam bagi sains, yang kemudian mengejar perkembangan ini.

Setahun lagi kita benar-benar akan melihat bagaimana duel ala transformer antara Megabot melawan Kuratas. Megabot diciptakan oleh Megabot.inc, sebuah perusahaan Giant Robot di Amerika sedangkan Kuratas diciptakan oleh Suidobashi heavy industries yang terinspirasi Anime.Mereka akan benar-benar bertarung dengan memakai senjata otomatis (meskipun pelurunya bukan misil tapi paint ball)


Di Amerika sana Darpa, Boston Dynamics, juga Google sedang benar-benar mengembangkan proyek-proyek robotnya. Satu karya mereka yang saya kagumi yaitu mikrodrone, drone seukuran serangga dan burung untuk proyek mata-mata. Saya juga kagum pada mantis, sebuah hexabot laba-laba dari Inggris yang mungkin di masa depan akan menggantikan peran Tank karena sangat stabil pada tes terrainnya.Di masa depan perang akan memakai robot kata konsultan pertahanan Australia.
Sementara kita disini masih mlongo dan meributkan masalah logika mistik, NU-Muhammadiyyah, Sunni-Syiah juga khilafiyah agama. Salam fentung! (Budi Mulyawan)

Selasa, 14 Juli 2015

Riset Geografi Manusia Saat Ini

Barney Warf, et al. (2006) menjelaskan dalam Encyclopedia of Human Geography dalam bab mengenai Contrasting Approaches to Social Geography: Theoritical Condition tentang konsekuensi geograf yang mengambil riset dalam bagian geografi manusia. Menurutnya dengan semakin berkembangnya masalah sosial dan politik maka menjadikan geograf yang memiliki pandangan pola keruangan untuk membuat model keruangan untuk membuat karakteristik perbedaan populasi, pemukiman, dan kebutuhan pelayanan sosial.

Geografi manusia kebanyakan keberatan dan menolak deskripsi statistik dan rumus-rumus matematis untuk menjelaskan fenomena dunia sosial. Mereka mengemukakan mengenai terbatasnya penggunaan teknik tersebut untuk mengetahui dan mengungkap kompleksitas, jalinan, dan pokok permasalahan sosial dan bisa merusak pemaknaan kehidupan sehari-hari individu atau masyarakat. Pendekatan geografi manusia penggambarannya mengacu kepada fenomenologi, filosofi, dan etnografi untuk menjelaskan kehidupan manusia lebih jauh, lebih akrab, dan daripada yang dianjurkan oleh ilmuwan keruangan.

Paralel dengan perkembangan geografi manusia, geografi radikal berkembang lebih radikal tentunya. Mereka menolak tradisi pemetaan dan menjelaskan mengenai ruang sosial (sociospatial). Kesejahteraan, Marxisme dan feminisme menjadi hal yang lebih penting dan dikritik daripada menerima status quo untuk dipetakan dan dibuat model. Kritik mereka lebih tentang kesenjangan sosial dalam pemenuhan kebutuhan dasar, hukum sosial, produksi, masalah gender untuk dijadikan analisa sosial yang lebih luas.

Perkembangan terbaru terjadi di Eropa, postmodern dan poststrukturalisme telah mempraktekan pertimbangan yang bersifat skeptis terhadap penjelasan-penjelasan mengenai laporan ilmiah radikalisme dalam geografi sosial. Para sarjana lebih tertarik meneliti sosial dan budaya spesifik yang menjadi bingkai perbedaan kehidupan dan dunia sosial. Kemudian mereka menyebarkan ide-ide mengenai perbedaan sosial, ruang, tempat, dan kekuasaan.

Konsekuensi dari pendekatan dasar empiris-analitis dalam geografi manusia adalah:
1. Fakta akan bisa terungkap
2. Peneliti harus terjun di dunia nyata
3. Bebas nilai (value free) dan non bias
4. Menggunakan analisis deskriptif

Data yang diambil adalah data kualitatif berupa wawancara mendalam. Karakter data kualitatif adalah humanistik, subyektif, induktif, personal, idealistik, internal. Sedangkan data diambil dari:
1. Pembicaraan dan dialog
2. Data primer diambil dari interview dan observasi langsung
3. Data sekunder diambil dari dokumen, gambar, dsb

Untuk menganalisa data kualitatif maka dibutuhkan
1. Deskripsi
2. Klasifikasi
3. Koneksi antar kelas
4. Teknik kuantitatif (jika dibutuhkan)


Sumber: Dari Institute of British Geographer and the Association of American Geographers, dalam Kitchen and Tate, 2000

(Budi Mulyawan)

Geografi Pada Era Post Modern

Dr. Triarko Nurlambang (2002) dalam jurnalnya “Geografi Saat Ini” menjelaskan time series perkembangan Geografi hingga era extreme geography:

  • 1940-1950, Paradigma empirisme dengan kajian regional, human ecology, cultural geography dan isu isu lingkungan hidup  
  • 1950-1960, Pendekatan kuantitatif dan modeling dalam analisa geografi, era ini disebut era kuantitatif atau aliran positivism
  • 1970-1975, pendekatan behavioralism, feminism
  • 1975-1980, Pendekatan Marxism, structuralism, managerialism, munculah radical geography
  • 1980-1990, Munculah post modernism karena banyak muncul pendekatan-pendekatan baru dalam ilmu sosial yang lebih holistik dan multi disiplin, pendekatan ini menekankan pada relativism
  • 1990, Mulailah ditemukan konsep stateless, borderless, placeless, wireless
  • 1997, Munculah istilah extreme geography (David J. Nemeth) yang menekankan pada kebebasan berpikir dan mengekspresikan pikirannya. Munculah istilah “Just do it”, “Geography is what geographer do”, “Just doing Geography”, “Put the question all the basic asumption”, “cross the boundaries without the license”, “Present the unpresentable”, “Never complain, never explain”, “Expect the worst, hope for the best” aliran ini yang membuat geografi lebih diterima masyarakat
(Budi Mulyawan)

Jumat, 03 Juli 2015

Ngopi Geo 3 Edisi Ramadhan: "Bedah Diri"

“Bukan hanya rohis yang bisa melakukan muhasabah, kita semua bisa”. Waktu menunjukan pukul 00.00 dini hari tanda diskusi harus dimulai. Kami memulai ngopi geo ke-3 dengan membaca bismillah. Aftaf selaku moderator membuka dengan mengajak kita bersama merenungi Ramadhan diiringi dengan lagu lama dari Novia Kolopaking: serahkanlah hidup dan matimu. Lagu yang sangat cocok dengan tema perjuangan. Kami pun menyanyi bersama:

Dengan menyebut nama Allah
Jalani hidupmu, yakinkan niatmu
Jangan pernah ragu
Dengan menyebut nama Allah
Bulatkan tekadmu, menempuh nasibmu
Kemanapun menuju

Serahkanlah hidup dan matimu
Serahkan pada Allah semata
Serahkan  duka gembiramu
Agar damai senantiasa hatimu

"Peserta Ngopi Geo 3"
Tema kali ini adalah bedah diri (Muhasabah) di bulan ramadhan ala geograf. Budi Mulyawan mendapat giliran pertama untuk menceritakan bedah dirinya selepas dari geografi. Budi ditanya perihal “penyimpangan setelah lulus dari geografi” seperti yang dibahas dalam ngopi geo perdana. Semua yang hadir tahu sekarang Budi menekuni batik. Budi kemudian mengajak semua yang hadir mempertanyakan ulang: “menyimpang itu apa benar-benar menyimpang? Ataukah justru tersesat? Apakah kalian semua pernah mendengar tersesat di jalan yang benar? Saya di batikpun tersesat dan tidak sengaja. Ada orang yang memesan batik pada saya dan kemudian lupa mengambilnya. Saya pun mencoba menjualnya eh ternyata laku. Mungkin ini yang disebut tersesat tapi di jalan yang benar. Akhirnya saya mulai menekuni bidang ini, ternyata sangat mengasyikan.”

“Tapi dahulu pernah pada semester 2 saya berkuliah batik. Mungkin ini seperti doa, kita tidak tahu bahwa pada akhir kuliah doa ini terkabul dan menjadi jalan hidup. Saya kuliah 145 sks tapi 1 sks ini justru menjadi obor di hidup saya selama ini. Dulu saya juga seperti yang lain, mencoba mengajukan beasiswa S2 juga apply kerja. Juga ditawari sebuah bank Jepang. Sempat bekerja membantu dosen tapi sepertinya passion saya bukan di kota. Akhirnya saya pulang ke kampung saya untuk belajar lagi batik dan pertanian.”

"Budi Membahas Batik, Takdirnya"
“Saya mengalami dilema antara batik sebagai komoditas dan sebagai kesenian. Solusinya justru akhirnya saya menekuni semua bidang di batik dari mulai penjualan sampai mencoba berkarya sendiri, mungkin ini cara bagaimana belajar hidup sebagai manusia. Di perjalanan ini saya mencoba merenung tentang kesenian dalam wilayah budaya. Kesenian adalah sebuah cara untuk melihat dan mengerti kelemahan diri. Peta itu sendiri juga termasuk kesenian. Makanya dikatakan bahwa geography is between art and science, sangat akrab dengan kesenian.

“Acara ngopi geo sendiri sebenarnya acara iseng. Karena Daydeh dan Saya sering berdiskusi sampai larut mencari “bagaimana hakikat geografi”. Acara ini juga bukan acara rutin, malah ini jadinya acara tidak rutin. Seketemunya aja. Ternyata asyik membahas geografi sebagai fenomena dengan sudut pandang sciencenya. Fenomena adalah bentuk sementara geografi sebagai ilmu akan tetap. Kemudian kami iseng pula membuat situs dan memasukan hasil diskusi ke situs geografimanusia.com”

“Saya setuju sekali dengan Dyota, jangan pernah menunggu kaya untuk berbuat sesuatu. Itu fatamorgana. Semua keadaan yang diberikan Allah pada kita adalah cobaan di tengah perintah kita harus bermanfaat bagi masyarakat. Bagi saya bersekolah itu penting, tapi tidak sekolah itu juga lebih penting. Toh kita bersekolah untuk tidak sekolah, artinya porsi hidup “sekolah dan tidak sekolah kita” lebih banyak tidak sekolah. Sekolah yang utama bagi kita adalah memahami hakikat alam raya ini.”

“Sering saya bilang bahwa kita ini ditakdirkan hidup di jaman edan. Orang pintar kalah dengan kekuasaan dan pemerintah alias ilmu tidak lagi utama. Sedangkan orang-orang di pemerintahan kalah dengan uang dan pengusaha. Mayoritas kebijakan kita saat ini dikendalikan oleh politik uang. Tapi masih ada harapan besar sebab ternyata masih ada yang ditakuti para pengusaha yaitu dukun. Sebenarnya saya ingin menjadi dukun, puncak posisi tertinggi sampai menemukan bahwa di atas dukun itu ada para kekasih tuhan. Sekarang bagi saya cita-cita selain menjadi kekasih tuhan adalah cita-cita yang tidak menarik. Kita bisa bekerja apapun dengan profesi apapun tapi masih dalam wilayah dikasihi Tuhan. Tukang sampah yang dikasihi Tuhan masih lebih baik dari para eksekutif muda yang memperoleh kutukanNYa”

“Akal pikir itu bebas tapi kita perlu melakukan batas, mencari parameter dan persepsi sendiri-sendiri, itulah kegunaan dari berdiskusi. Geografi itu adalah takdir lalu kebetulan saja kita menekuninya. Geografi belum bisa berfungsi maksimal di Indonesia karena SDMnya masih sedikit sekali. Padahal di dunia ini Cuma ada dua kebenaran yaitu kebenaran waktu dan kebenaran ruang. Ilmu yang paling bisa menjangkaunya adalah sejarah dan geografi. Negeri manapun yang mempraktekan dua ilmu ini akan menjadi negeri yang sejahtera. Baldatun thoyibah, tapi juga perlu kebenaran Ketuhanan supaya menjadi Wa Robbun Ghofuur”

“Kembali ke geografi, kita kalah dalam semua sektor juga karena banyak anak muda larinya ke company. Geografi sendiri mestinya melindungi orang-orang kecil.  Di Batik, saya menemukan ilmu yang asyik namun tidak melepas geografi, dan saya ingin semua orang tidak minder dengan bidang pekerjaannya apapun jurusannya”. Budi menutup semua muhasabahnya dengan satu lagu tentang perpisahan dari MLTR: Thats why you go.

Giliran muhasabah tiba di Hendri. Hendri bercerita dulu dia sudah keterima di STT telkom tapi Ibu saya tak mau saya jauh darinya. “Dulu saya kurang fokus kuliah dan banyak kegiatan, ada berdagang dan main juga. Selepas kuliah saya sempet kerja di Danu (bukapeta.com) lalu keluar karena ingin membangun bisnis sendiri. Ternyata ada musibah yang menimpa saya dan keluarga sehingga urung membuat PT. Sepertinya ini sinyal bahwa saya tidak mesti ke sana. Sekarang saya pun masih mencari passion”

"Hendry dan Pengalaman Pahitnya"
“Saya merasa bahwa saat ini orientasi orang sudah ke uang semua. Saya kagum pada Danu founder bukapeta.com. Di sisi lain dia memperjuangkan idealisme geografi, di sisi yang lainnya dia juga berbisnis”. Tapi tidak harus geo juga, di luar geo kita pun bisa selama masih terus berkontribusi. Intinya kontribusi”

Dyota memuji, Hendri sendiri punya karakter tulisan dan bahasa inggris yang bagus dan cocok untuk menulis. Ada karakternya di medsos Hendri yang tak ada di orang lain. Hendri melanjutkan: “Saya sendiri lebih suka bekerja dibandingkan bekerja di orang lain”. Kami semua terharu karena ternyata prioritas utama hendri adalah supaya bisa hidup bersama ibunya.

Hendri bercerita musibah yang menimpanya supaya semua dari kita waspada. Di sekitar kita ada mafia azimat, Jin, praktek-praktek kegaiban, dan ilusi uang cepat. Kami menjadi korban mereka. Ada orang yang mengaku bisa membuka harta Soekarno kepada salah seorang saudara saya. Dia mampir ke rumah pas saya sedang ke Malaysia. Orang ini kemudian melakukan ritual dan Ibu saya seperti dipengaruhi olehnya dengan ajakan gaib. Mereka menyuruh ibu dan keluarga saya untuk infaq sebesar kira-kira 100 juta rupiah. “Ini yang membuat saya urung melakukan bisnis di tahun 2014. Sepertinya ini cobaan buat saya dan Ibu. Saya pikir kita tak usah mencari kebahagiaan yang terlalu jauh sebab kebahagiaan sendiri ada di sekitar kita, surga ada di rumah kita: ibu kita” Kenang hendri.

Amri (Geo 2010) kemudian mendapat giliran muhasabah. Dimulai dari ceritanya tentang mengapa dia menentukan pilihan hidupnya di geografi. “Saya terinspirasi kakak di geofisika UGM, kemudian melihat dosen yang melanglang buana kemana-mana sepertinya asyik. Lalu saya ikut tes PTN dan dapatlah geografi. Dulu di SMA, guru yang paling gokil itu guru geografi. Ilmu paling nyantol di saya ya geografi. Saya dulu IPS” Katanya

“Di jurusan, saya ikut proyek. Paling seru adalah ketika mata kuliah geografi manusia digelar. Skripsi saya perihal tawuran antar geng. Geografi membuka mata saya, ternyata banyak hal yang sangat seru. Di luar negeri sudah banyak geografi aneh seperti geography of fashion, bahkan geography of dream di tengah geografi kita yang hanya begini-begini. Proyek penelitiannya sangat luas. Hanya saja kekurangan geo menurut saya adalah karena kita ingin cepet dan instan akhirnya kita terjebak di aplikasi akibatnya konsep geografinya kurang begitu kuat” Kenangnya

“Dahulusempet agak kesel karena ternyata geografi berbeda dengan geofisika. Kuliah sambil proyek dulu saya kerjakan tapi jeleknya akhirnya saya tidak merasa kuliah itu penting. Padahal ini keliru. Banyak hal di proyek itu juga yang kurang begitu saya harapkan” Sebelum melanjutkan, Dyota mencoba menanggapi Amri: “Sebenarnya di dunia pemerintahan dan proyek, kita mesti memilih untuk menjalani tradisi mereka dengan berbagai tekanannya atau keluar sama sekali dari tradisi itu”

“Idealisme itu saya rasakan sulit sekali. Dulu sepertinya saya membanggakan penelitianku yang unik. Sepertinya di sana banyak hal yang tidak sesuai kenyataan. Di masa sekarang banyak sekali teman-teman kita ingin mengembangkan geografi tapi wadahnya tidak ada. Mengapa sulit? Karena orang tua kita pun juga kurang begitu memahami kinerja geografi. Mengapa banyak lulusan kita sulit bekerja pada slot-slot yang tepat? Karena banyak pula dari kita yang ingin bekerja di Geo tetapi lapangan pekerjaan tidak semudah yang kita harapkan.” Ujar Amri. Budi merespon: “Adalah tugas kita membuat wadah itu dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya geografi”

Kami pun beristirahat pikiran dengan menyanyikan sebuah lagu dari Radiohead, high and dry. Kemudian dilanjutkan dengan Dyota yang membagi muhasabahnya: “Masalah utama kita bukan penting atau tidak penting untuk sekolah tinggi, karena sebenarnya yang salah adalah sistem pendidikan dan belajarnya. Padahal dengan pendidikan kita mampu menambah wawasan. Tapi berapa banyak orang yang makin berpikiran sempit di dunia ini? Tapi itu pesimisme. Gagal melakukan pendidikan lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali”

"Dyota dan Muhasabahnya"
“Dulu saya memilih teknik mesin ITB. Mengapa geografi? Karena passing gradenya cukup terjangkau dan memang itu jurusan yang saya inginkan. Meskipun dulu tidak tahu sebenarnya geografi itu apa. Paling penting bagi saya dulu kuliah kalau nggak di UI ya ITB dan jangan terlalu jauh. Saat pertama kali kuliah saya tidak punya bayangana apa-apa. Di geo, saya mulai mengenal bagaimana analisis keruangan tetapi sampai akhir detik lulus, masih juga tidak tahu bagaimana analisis keruangan untuk apa nantinya, aplikasinya, dst. Tahun kedua saya ikut SPMB lagi karena merasa di geografi hidup saya kurang jelas. Saya mengambil akuntansi UI tapi tidak dapet juga. Pada tahun kedua saya mengenal ICV dan GIS juga tools-tools geografi. Kecintaan saya pada geografi justru tumbuh di sini setelah tahu bagaimana aplikasinya” Kata Dyota

Dia melanjutkan: “Geografi itu keren, prinsipku di hidup ini kita harus mengejakan sesuatu yang keren dan unik. Mungkin selama kuliah saya kurang paham secara teori, yang penting bisa overlay variabel lalu memakai analisis apa, terus dikerjakan deh. Akhirnya saya pun setuju dengan Made Sandy, geografi itu hanya bagaimana menarik garis. Menurutku disini, kita belum sepenuhnya menjadi researchers baru dalam tahap praktisi. Kita juga jangan terlalu terbuai oleh teori-teorinya”

“Dulu pun kita kuliah geopolitik tapi sampai hari ini tidak tahu gunanya untuk apa. Setelah lulus aplikasinya bagaimana. Paling lulus nanti di institusi yang itu-itu saja. Kita terkadang melihat wadah geo itu sulit, tapi banyak tempat dimana kita akan sangat berguna. Sebagai contoh tempat saya bekerja dulu. Dulu saya membuat peta banjir tapi aplikasinya apa? Kurang begitu jelas. Selepas itu saya kerja di Event Organiser yang benar-benar nggak ada hubungnnya sama geo. Lalu bekerja di sebuah institusi yang benar-benar membutuhkan keputusan ruang. Geografi disini vital sekali”

“Dulu saya memegang data seindonesia, data resoures yang digabung dengan data-data lainnya seperti akses jalan, peta adat, lingkungan, kawasan Itu bisa menjadi analisis”. Sejalan dengan Dyota, Budi berkata: “Di dunia ini ada dua kebenaran yaitu kebenaran waktu dan kebenaran ruang. Dan sampai hari ini hanya geografi yang belajar ruang sampai benar-benar jernih dan global, sebab sejatinya geografi itu ilmu presiden, minimal menteri”

Dyota melanjutkan: “Untuk merubah itu atau membuat wadah yang tepat, butuh orang idealis yang gila untuk mendobrak tatanan baku yang mapan tapi terpuruk. Kalau tidak ada orang idealis, siapa yang mau membenarkan hal seperti itu. Kalau saya punya kesempatansekali lagi, saya ingin masuk ke pemerintahan lalu mengubah kebijakan menjadi lebih baik. Job GIS sendiri tidak akan pernah hilang di migas. Saya berencana kuliah S2 lagi bukan karena GIS karena GIS ya begini-begini saja. Sebenarnya kita masih bisa lebih. Kalau stay di Indonesia pun kita tidak bisa berkembang lagi. Sebab kuliah itu selain sarana belajar, juga tempat bagi kita untuk mengembangkan diri”

“Untuk membuat peta, siapapun juga bisa. Tidak harus geografi dan geodesi. Memasukan koordinat juga bisa tapi mereka belum bisa analisis keruangannya yang kompleks” Kata Dyota yang disambung Aftaf: “Kelebihan geografi dalam analisis keruangan bisa menjadi sesuatu yang unggul. Tapi belum ada orang yang menonjolkan geografi sehingga wadahnya kurang saat ini sebagai lowongan geografi”

Dyota melanjutkan muhasabahnya: “Di luar ilmu geo saya banyak bertemu aluni UI, ITB, UGM. Saya terkadang sedih dengan pemberitaan orang di luar institusi pemerintah. Padahal terkadang mereka  orang yang tak tahu kondisinya. Saya kasihan dengan orang yang berjuang demi Negara tapi tak pernah mendapat apresiasi tapi ya masih mau berjuang. Saya saksinya, masih banyak orang yang seperti itu. Juga banyak sekali anak muda kita yang tak mau menerima amplop. Saya melihat semangat-semangat teman-teman tinggi untuk berbuat kebenaran, kebaikan”

Aftaf menyimpulkan bahwa pasti generasi kita sudah agak lebih baik dari generasi berikutnya. Dyota menjelaskan: “Bosku pernah bilang: orang-orang yang dari Top universities pasti kualitasnya beda. Kita output dari UI. Walaupun keadaan Indonesia masih begini ini. Walaupun kita dalam keterpurukan tapi kita harus yakin sebetulnya kita orang-orang terpilih untuk melakukan perubahan. Satu-satunya jalan adalah jadilah idealis. Kita mesti tahu apa kemampuan kita, apa yang bisa kita ubah juga dari jurusan kita, diperjelas pula apa yang harus dilakukan oleh lulusan-lulusan geografi. Kita mesti berbagi pondasi yang kuat dimana orang-orang kita tidak bingung setelah lulus”

"Momod Aftaf dan Kisah Geonya"
Momod Aftaf berbagi kisah hidupnya. “Jujur seperti Dyotalah saya memilih geografi. Semua keluarga saya adalah dari UI. Selama di geografi 4,5 tahun saya sebenarnya bingung mau apa. Baru tahu geografi setelah kita lulus, keruangan dan holistik saya baru benar-benar tahu. Selepas kuliah saya ikut beberapa project, disana benar-benar membuka mata saya peluangnya seperti apa. Pernah menggarap proyek dari nokia perihal POI (Point of Interest) tapi POI itu sangat monoton dan saya cepat sekali bosan. Pindah kerja di situ hanya 9 bulan”

“Pada tahun 2013 saya ikut kakak saya bekerja di riset regulasi air. Saya juga menjadi bendahara proyek ini yang bernilai sekitar 100,000 Australian Dollar. Beberapa kali saya juga ikut proyek di pemerintahan. Sebenarnya disini saya belajar bagaimana mengelola dilema anggaran. Di anggaran itu ada hanya dua pilihan: harus habis atau dikembalikan, kalau dikembalikan nanti anggaran berikutnya bisa dipotong karena tidak terserap” Kata Aftaf.

Kami pun bercerita perihal banyak proyek saat ini mencari tenaga murah. Kita tidak mengerti nilai proyeknya tapi disuruh mengerjakan. Itu banyak terjadi di mahasiswa yang ikut proyek. Ada suatu kesepakatan baku kita akan merusak pasar ketika memberikan mahasiswa bayaran yang lebih mahal. Akhirnya apa akibatnya? Banyak pekerjaan kita yang tidak maksimal. Tenaga dibayar murah dan pimpronya berorientasi uang.

Aftaf melanjutkan: “Kita harus banyak berdoa agar diberikan jalan yang halal. Manusia itu what you get is what you want, you are what you eat. Makanlah yang halal nanti kita berada pada jalan yang lurus”.

Waktu menunjukan pukul 03.00 AM lebih. Daydeh menutup muhasabah kali ini dengan ceritanya. Dulu dia memilih matematika. Dia juga tidak begitu suka dengan GIS, lebih menyukai perancangan wilayah. “Saya sendiri di kuliah tidak pernah mendapat A kecuali skripsi. Ketika lulus saya langsung kerja ke IT WEBGIS dimana proyeknya yang paling rendah 4 Milyar. Tapi saya dibayar cuma 2,5 juta saja dengan beban kerja yang tak sebanding. Saya kemudian pindah kerja tapi juga tetap membantu pemerintahan. Itu semua yang dibahas Dyota benar sekali. SDM kita juga kurang di geografi. Saya sepakat wadah itu harus ada”

“Sampai hari ini saya mengagumi Pak Raldi, Pak Nuzul, dan Pak Arko. Saya kagum dengan banyak pemikiran dan wawasan mereka. Intinya saya menemukan ilmu manajerial kita kurang. Saya sendiri kuliah S2 sambil kerja, karena selain uang saya juga butuh link. Ternyata di hidup ini ada personal branding, pendekatan untuk mengenal orang” Katanya

“Oh ya saya tadi ngobrol sama Budi perihal mengapa di Jakarta banyak bertaburan bank sepanjang jalan utama kita. Itu kan gambaran peradaban kita yang berada dibawah naungan kredit. Ini jug pertanyaan geografi juga. Jakarta itu adalah kota Jasa, tapi satu hal ekonomi yang kita pelajari di geografi adalah ekonomi murni.  Saya ingin memberi solusi agar manajemen kita baik kita harus banyak belajar. Sebagai contoh, dengan manajemen yang bagus, Gojek menembus manajemen baru daripada produk local. Saya sendiri menemukan ada banyak solusi tapi kita belum tahu saja. Sebenarnya untuk mengubah sesuatu di Indonesia harus lewat pendidikan strata. Sepertinya mustahil tanpa itu. Tapi bisa juga melewati jalur pengusaha, kita bisa melakukan kontroling dari sini. Kita harus holistik, kita butuh pintar, wawasan akademis, manajerial, teknisi, lengkap holistik. Supaya apa? Agar kita tidak terus dibohongi.  Kita harus lengkap dan total” Kata Dedi

Apa yang kita rintis sekarang itu seperti marathon, yang bisa kita lakukan adalah memberikan sesuatu yang baik untuk Junior. Dyota menutup ngopi geo ini dengan perkataan: “Kuliah di luar negeri ternyata yang paling penting adalah link meskipun banyak PNS kuliah S2 hanya sekedar untuk naik jabatan. Kita contoh, Ridwan Kamil banyak menembus, mendirikan konsultan dunia dengan markas di bandung tanpa harus keluar negeri. Itu kan mindsetnya bagus. Kita juga harus membudayakan menulis agar geografi kita tidak miskin literatur. Kita coba mencari solusi dari hal yang paling bisa dirubah. Kita ubah diri sendiri dahulu sebelum mengubah semuanya. Jangan berpikir rumit, carilah solusi yang mudah”

Waktu menunjukan pukul 04.00, acara ditutup dengan sahur bersama dengan menu nasi goreng Taman Suropati. Sampai jumpa di Ngopi Geo berikutnya di Dieng Culture Festival



Ngopi Geo 2: "Jakarta Urbanstep Paper (PDF)"

JKT Urbanstep is a concept of smart way to commute based on the willingness to walk more. This is the most reasonable and applicative way to start on changing Jakarta better, parallel with the improvements of integrated transportation systems. With more people come down to the pedestrian and with public transportation that always improving to become more efficient and effective. If this facility is built inline with the obligation that pressing down the number of private vehicles, the less people will commute in their vehicles, which means less traffic and pollution. Jakarta does not need theoretically hard knowledge from any professors to banish the traffic problems, it just needs a simple and applicative way that is easier to do, like the JKT Urbanstep concept.

This paper was written together by:
1. Aftaf Muhajir
2. Arif Rachman
3. Dedi Priyanto
4. Dyota Adhishakti Nandana
5. M. Budi Mulyawan

Download HERE

Solusi Macet Jakarta: Mlaku!

Jakarta Ibukota sekaligus pusat ekonomi Indonesia dengan jumlah penduduk tercatat pada tahun 2014 sebanyak 10.075.000 Jiwa dengan luas daratan sebanyak 661,52 km2. Kepadatan rata-rata kepadatan 15.230 jiwa/km2 yang hampir mencapai titik jenuh kepadatan penduduk. Penduduk Jakarta saat ini sudah mencapai 12,7 juta pada saat siang hari dan 9,9 juta pada saat malam hari. Kegagalan mengatasi masalah di Jakarta akan berimbas kepada kegagalan mengatasi banyak masalah Indonesia. Lebih dari 70% uang beredar di Jakarta. Satu tempat terjadi masalah di Jakarta akan mengakibatkan tempat lain di luar Jakarta terkena imbas ekonomi dan sosialnya. Satu contoh kecil pada saat tanah abang terbakar, ribuan orang menganggur di Pekalongan hanya dari segmen tekstil.

Jakarta adalah salah satu titik utama penerapan teori polarisasi, pusat pertumbuhan teori kutub pertumbuhan, juga teori tempat sentral pada masa orde baru di Indonesia. Dengan harapan bila majunya Jakarta, maka daerah-daerah lain juga akan mengikutinya. Teori ini dikemukakan oleh ekonomi Perancis Francois Perroux pada tahun 1955. Inti dari teori ini menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di tiap daerah tidak terjadi di sembarang tempat melainkan di lokasi tertentu yang disebut kutub pertumbuhan. Untuk mencapai tingkat pendapatan tinggi harus dibangun beberapa tempat pusat kegiatan ekonomi yang disebut dengan growth pole (kutub pertumbuhan).

Terpotret dalam syair Umbu Landu Paranggi “apa ada angin di Jakarta” yang merupakan protes keras terhadap pemakaian teori kutub pertumbuhan ini. Indonesia adalah negara kepulauan yang sejatinya tidak cocok menerapkan teori kutub pertumbuhan. Juga dibangun dengan teori benua bukan kepulauan. Tetapi penerapan teori ini tidak diimbangi apa yang disarankan oleh Myrdal yang juga penciptanya. Sentralisasi pembangunan suatu negara harus diimbangi dengan pembangunan desa, juga wilayah pinggiran dari pusat pertumbuhan tersebut. Gagalnya pembangunan desa dan pinggiran akan mengakibatkan apa yang disebut Everett lee dengan teori push and pull theory dimana para penduduk kota lain akan menuju ke pusat pertumbuhan. Inilah yang mencekam di Jakarta. Berdasar ata terkini Dukcapil DKI Jakarta, jumlah warga yang mudiksaja  dari Ibu Kota sebanyak 3.616.774 jiwa. Aktivitas sentral dan banyaknya para pendatang yang tidak seimbang dengan kesiapan infrastruktur Jakarta kemudian menciptakan ratusan titik macet.

Sebuah rilis data mengejutkan kita semua bahwa kemacetan Jakarta telah mengakibatkan kerugian sebanyak 65 Trilyun padahal pada tahun 2015 DKI menganggarkan hanya 1 Trilun untuk seluruh DKI. Kita bisa memiliki 65 x lipat jembatan layang jika seandainya Jakarta tidak merugi dengan macetnya. Konsep macet sama  halnya dengan pencernaan makanan. Ada yang masuk ada yang keluar. Jakarta tidak membatasi yang masuk juga tidak segera mengeluarkan yang tidak perlu sehingga terjadi komplikasi masalah-masalah yang tidak akan pernah selesai dengan pendekatan sektoral.

Kita masih ingat pada tahun 1970, laju perkembangan penduduk ini pernah coba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi pendatang. Juga ditawarkan banyak sekali solusi dari para pakar seperti Contraflow juga gagal karena tidak memperhatikan arus lain di persimpangan jalan utama. Konsep 3in1 juga tidak efektif sama halnya ide penutupan jalan. Juga ada wacana Jakarta menerapkan ERP meniru di Singapore yang jelas akan diprotes masyarakat karena “money sentris” dan tidak membela rakyat. Plat Ganjil Genap yang hanya retorika belaka. Juga ada ide motor masuk tol karena sudah sangat kehabisan ide. Ada pula yang logis seperti penaikan pajak, moratorium penambahan kendaaraan di Jakarta

Solusi-solusi ini bagaikan obat sintesis yang akan menimbulkan efek lain, tidak merupakan solusi yang sangat menyeluruh. Kita tidak mungkin lagi menyiram kebakaran hutan dengan seember air. Kita mungkin sedang lupa dan panik bahwasanya solusi ini baru menjangkau solusi bagi kendaraan tapi belum menyentuh solusi kemanusiaan yang nyata. Solusi macet Jakarta adalah memahami manusianya seutuhnya. Perlu ide gila mengatasi macet Jakarta (Wadirlantas Polda Metro Jaya, AKBP Sambodo Purnomo). Sebuah ide gila yang radikal akan efektif jika kita membaca sejarah macet dan kegagalan solusinya di Jakarta.

Fitrah manusia adalah berjalan kaki alias mlaku. Setelah mengenal kendaraan mereka memakai motor dan mobil. Solusi dari macet Jakarta adalah kembali ke akar dari permasalahan sendiri yaitu manusia jakarta. Jakarta bukan Hongkong, bukan Singapore, bukan Jepang karena Jakarta adalah Jakarta. Kita bisa belajar dari kota atau negara lain tapi kita harus muncul sebagai diri sendiri dan apa yang Bob Sadino bilang “kita bukan mesin fotokopi”. Tidak bisa solusinya meniru mereka karena solusi di kota lain berangkat dari belajar manusianya. Kita mesti tahu bahwa revolusi mental yang sesungguhnya untuk menciptakan innerstrengh dan melahirkan generasi penerus yang fanatik terhadap jalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum. Segmen dari revolusi ini adalah penduduk Jakarta usia 20-35 yang merupakan generasi muda dengan statistik terbesar pada piramida penduduknya. Ini penting sebelum faktor eksternal dibenahi seperti pengurangan kendaraan yang terus dituang di Jakarta.

Walk to work dapat menjadi titik balik peradaban di Jakarta asal dijalankan sungguh-sungguh, didukung semua elemen masyarakat juga dilakukan apresiasi terhadap jalan kaki ini. Solusi ini adalah solusi untuk manusia Jakarta bukan untuk Jakarta sebagai kota. Jika solusi ini sudah menjadi jiwa manusia Jakarta maka akan mudah membuat solusi sekunder lainnya Solusi ini menjadi titik berangkat solusi-solusi lain. Simpelnya solusi dibagi menjadi dua yaitu pembenahan mental dan kemudian baru muncul solusi eksternal berupa apresiasi terhadap pejalan kaki ataupun pengguna public transportation. Sebuah jakarta yang ramah untuk para pejalan kaki dan pengguna angkutan umum. Kita sering bermimpi mengubah Jakarta tetapi lupa mengubah diri sendiri untuk Jakarta (Budi Mulyawan)

Literatur:
http://bappedajakarta.go.id/
http://www.jakarta.go.id/web/bankdata/mostdownload
http://www.census.gov/hhes/commuting/

LGBT (Lo Gue Basi Banget)

"LGBT Paintings"
Oke,dari judul nya aja gue udah salah kaprah, pertama kali gue baca tentang kontroversi LGBT di fesbuk, twitter mah adem ayem soalnya gue follow selebtwit yang kebanyakan penyuka sesama jenis, alesannya apa? Ya karena kepo aja sih, kadang banyak cerita mereka yang menarik,lumayan buat hiburan. Balik lagi ke masalah LGBT sebagai orang indonesia yang "rempong cyin" gue wajib membahas tentang ini.
     
LGBT itu kan kebijakan dari amriki ye.. mereka menyetujui dan melegalkan pernikahan sesama jenis,baik pria dengan pria,wanita dengan wanita. Dan gue adalah orang yang bukan islami banget. Tapi gue dengan tegas menentang kebijakan ini,apalagi indonesia ikut-ikutan melegalkan. kenapa? Ngeri coy, lelaki aja udh dikit ye, gmana nasib wanita-wanita pencinta lelaki ganteng (Macam gue), gimana coba rasa nya dikalahkan oleh lelaki lain? PEDIH.

Disisi lain kemanusian mereka yang "terlanjur" mencinta sesama jenis pun tak bisa disalahkan, yang salah itu dia "menularkan" kepada orang lain yang awal nya straight. Kok nular? Emang penyakit? Bukan. Orang indonesia mah konsumtif dikit2 kebawa arus, liat aja, hidupnya susah gara2 iphone 6, jadi ya gitu entah apa alasannya kebawa2,ga percaya?silahkan aja coba sendiri, nanti kasih kabar ke gue ya.

Masalah LGBT ini orang terkenal aja macam sherina di hujat,apalagi temen SMA gue yang bukan seleb. Gue kasian sih,padahal dia cuma masang poto profile fesbuk pake muka dia terus warna warni kaya pelangi, kata nya itu simbol pro dengan kebijakan LGBT, jadi gue memutuskan untuk kontra (semudah itu), ribet amat ye hidup, keputusan ada di negara yang nun jauh dimata, kita yang rusuh. Iya rusuh? Karena kita sebagai orang yang beriman punya pegangan berupa Al qur'an, yang dimana disana ada kisah tentang kaum Nabi Luth (kaum Nabi luth di tuliskan pada surat Al. Araaf ayat 80-81) dan bagaimana Allah SWT mendatangkan azab berupa dijatuhinya batu-batu dari langit dan tanah yang terbakar ( Al Qur'an surah Hud ayat 76 - 83),gimana gue ga jiper sama ketentuan Allah SWT.

Jadi kontra LGBT karena takut azab? Oh jelas iya. Kiamat memang ga bisa kita elak-kan, tapi ya bisa dong kita tidak memicu datangnya kiamat kiamat kecil akibat perbuatan kita. Sudah sepantasnya hidup ini menebarkan kebaikan walaupun kecil dan tidak bisa memberikan gelombang besar pada lingkungan sekitar, paling engga diri sendiri dibenerin,jangan merusak diri dengan penasaran katanya "nular" kemudian ikut-ikutan. Bukan membatasi diri tapi menjaga. Semoga kita adalah orang orang yang bisa menjaga diri, dan tidak merugikan orang lain karena tindakan kita, dan semoga kalian kalian tidak merasa rugi waktu dengan membaca tulisan saya ini,anggaplah hiburan dari pemikiran otak gue yang sedikit,udh sedikit, ga dipake lagi.

Oke sampai jumpa bulan depan... ciaoo bellaaa.. muach. (Dea Amelia, Cilegon,3 Juli 2015)

Sabtu, 07 Maret 2015

Reportase Ngopi Geografi Perdana (Jum'at, 6 Maret 2015)

"Diskusi Perdana Kami"
“Ruang adalah debar jantung dan iman kita para geograf, apapun pekerjaan kita”. Aftaf sebagai moderator alias momod membuka ucapan terima kasih atas kedatangan teman-teman pada dialog kecil yang membahas mengenai tafsir ruang. Sebagai geograf kita perlu ijtihad, menemukan tafsir ruang masing-masing kemudian diterapkan pada sendi-sendi kehidupan kita, bukan mengekor kepada orang lain apalagi paham impor dari luar. Geografi kita jalan tengah pancasila, tidak terlalu radikal apalagi liberal “umatan wasathon” kalau di Bahasa arabnya. Dialog ini muncul karena rindu kami terhadap fitrah geografi.

Pertemuan dibuka dengan lagu Adele, someone like you dinyanyikan oleh Budi agar semua yang hadir bisa tegar menjalani kehidupan. “Sudah putusin aja” kata Felix Siau. Kami tidak bisa menerima ini. “Cinta harus bertahan dan diperjuangkan sama seperti geografi. Ketika kita lulus, kita semua belum menjadi geograf sejati sampai ilmu ini manunggal kedalam jiwa” katanya sambil salto.

Budi membacakan pengantar, ruang sendiri sudah diterapkan pada banyak kata strategis di Pemerintahan seperta pendekatan-analisa ruang, tata ruang, informasi ruang. Penerapan ini tidak akan berhasil kalau tidak paham kata ruang, tidak paham bagaimana menghayati ruang. Penghayatan ruang adalah bagaimana bersatunya pikiran-hati manusia dan ruang dalam abstrak sehingga menghasilkan inklinasi, keputusan dalam daerah/wilayah. Penataan ruang adalah bagaimana menata logika dan perasaan ruang. Ini penting untuk Geograf karena ketika kita gagal menghayatinya maka akan berdampak gagal pula pandangan kita mengenai wilayah dan daerah. Selama ini pula yang dibahas geogafi dari akademisi hingga praktisi adalah wilayah daerah ini beserta toolsnya, tapi meninggalkan penghayatan akan ruang ini. Rumusan sederhananya jika ada pemahaman ruang yang keliru di dunia abstrak, dalam hati dan di dalam akal sehat. Maka akan rusak pula perilaku kita di dunia nyata: perilaku pengambilan keputusan ruang akan wilayah,daerah, dan tempat.

"Singing Adele, Someone Like You"
Tuhan menurunkan dua ilmu berkah ke dunia ini tentang dua hal yang tak bisa lepas dari manusia: waktu dan ruang, yang pada penurunan ilmunya menjadi sejarah dan geografi, dua ilmu yang ditenggelamkan oleh kita sendiri karena mainstream pasar. Lihat karena ruang munculah kebesaran arsitektur, sebuah ilmu purba estetika ruang dari jaman leluhur. KH. Said Agil Siradj pernah bilang bahwasanya “sebuah ideologi apapun tak bisa berdiri tanpa ruang”. oleh karena itu dahulu NU harus membela NKRI. Seperti apa yang Buya Hamka bilang “Nasionalisme itu untuk membangun Negeri” sebagai landasan Muhammadiyah tentang NKRI. karena disinilah tempat mereka. Bahkan para teolog Islam karena paham apa itu ruang, mereka menemukan siapa itu Tuhan.

Pada literatur geografi kami harus benar-benar berhati-hati membedakan apa itu "wilayah" apa itu "daerah". Dulu wilayah, berasal dari bahasa arab: dekat (walayatun). Merupakan ruang gaib tuhan untuk kewalian sedangkan nubuwat untuk kenabian. Definisi ini dipersempit oleh geografi (agar jelas tampak/teknisnya) yaitu ruang pada permukaan bumi yang dibatasi garis khayal: "kesepakatan-kesepakatan manusia".

Ruang sendiri pada ilmu filsafat adalah "sesuatu yang aneh" bukan waktu, bukan pula benda terstruktur. Ada tapi tak bisa diraba. Ruang diibaratkan "kolong" dia ada, tapi sulit dijelaskan keberadaannya. Kita lebih jelas melihat meja daripada kolongnya. Dijelaskan oleh Made Sandy kemudian terjadilah yang menurut Emanual Kant, kita terpecah menjadi kepentingan-kepentingan ilmu itu sendiri. Pada geograf, tetap saja ruang tak ada batasan. Kemudian dibatasi dengan "garis kesepakatan" tadi menjadi wilayah. Wilayah sendiri belum terlalu spesifik dan jelas. Maka kemudian dimunculkanlah istilah daerah. Yaitu: wilayah+karakteristik. Itu mengapa: daerah aliran sungai, bukan wilayah aliran sungai, daerah banjir, daerah khusus ibukota. bukan wilayah. Daerah harus "spesifik". Daerah adalah anak dari ibu bernama wilayah, cucu dari ruang, analogi mudahnya begitu.

Wilayah ada dua: formal/uniform dan nodal/node/fungsional. Ibarat ibu-ibu muda: formal adalah fisiknya, fungsional adalah batinnya. Wilayah formal jelas batasannya, spesifik dan umum, berlandaskan pada kesamaan. Ex:iklim, vegetasi, dsb. Ibarat ibu, terjadi perbedaan fisik/formal. Misal: ada ibu kurus, ibu gemuk, ibu cantik, ibu gempal. Dari perbedaan ini akan lahir bayi beda. Daerah lahir dari sini: dari wilayah formal, dari ibu2 yang sudah dikelompokan/diklasifikasi itu sehingga daerah harus unik/spesifik. Wilayah fungsional/nodal atau node itu merupakan wilayah imajiner, pada ibu2 adalah batinnya. Batas ruangnya bisa berubah. Syarat wilayah fungsional/nodal: ada pusat, ada arus, ada jaringan, wilayah dapat meluas. Tentu saja ini bukan fisik (daerah ekivalen fisik). Untuk melihat wilayah, daerah harus peta. Untuk melihat ruang tidak harus karena ruang abstrak. Ada istilah ruang hati: abstrak, disinilah apa yang menurut buku Spatial Behavior diambil “keputusan ruang”, dimana harus didasari dengan niat yang bersih dalam pengambilan keputusannya.

Mas Taqi memberikan tulisan penjelasan dari facebook supaya menyederhanakan ini: “keberadaan perbedaan ruang satu dengan ruang lainnya di permukaan bumi ini, disitulah geografi bisa bekerja, baik ruang yang dimaksud dengan space, maupun ruang sebagai place (kognisi manusia) atau keduanya. Manusialah yang memunculkan place, dan proses space menjadi place tanggung jawab manusia (khalifah). "Place "Culture" is how people do things around here" (Stephen Hill). Sebagai penerapan dari contoh ini, Di pulau Nias ada kepercayaan : “siapa yang melihat matahari lebih dahulu dialah yang paling berkah” Karena kepercayaan ini, maka banyak penduduk yang tinggal di wilayah yang lebih tinggi (space) dan menjadikan tempat yang tinggi di Nias menjadi lebih special (place). Inilah bagaimana cara sederhana memahami ruang.

"Momod Aftaf"
Momod Aftaf memberikan kesempatan pertama untuk sharing kepada Kelpin. Dia membuka cerita bahwasanya penyakit keilmuan sekarang yang hinggap di Universitas adalah terlalu bangga dengan keilmuannya. Ilmu di Universitas itu tanaman atau tumbuhan, tidak ada hutan kalau mereka saling membanggakan diri. Mengutip kata-kata dari Rendra: “Apalah arti kesenian bila terpisah dari derita lingkungan, apalah arti berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan”. Lalu apakah arti ilmu kita bila kita berpisah dari fenomena geografi dan tragedi kemasyarakatan?

“Lulus geografi saya menempuh jalan jurnalistik meninggalkan karir di project sebagai konsultan. Saat ini saya sadar bahwasanya geo kurang dikenal masyarakat luas. Ini bukan murtad keilmuan tapi bertahan dari kebutuhan” Katanya sambil ngakak. Dia melanjutkan: “Ilmu tidak boleh tenggelam, ikatan alumni kita sendiri harus kuat. Alumni yang sudah sukses diharapkan dapat mengibarkan keilmuan kita diluar supaya kita tidak seperti anak ayam yang kehilangan induknya, bahkan kehilangan kandangnya”. Semua harus berjuang dan struggle di Geo. Kepahitan-kepahitan ini harus kita rasakan dalam puasa ini. “Duka, luka dan bisa harus kita bawa berlari bila ingin Geografi hidup seribu tahun lagi” meminjam istilah Chairil Anwar. Lalu kami sepakat meminta kepada Kelpin supaya suatu hari bisa lahir dari tangannya “Geography of Journalism” dimana berita-berita yang disampaikan jurnalis bisa jujur, sesuai kebenaran Ruang.

Pak momod Aftaf merespon: “Istilah holistic harus direvolusi, sudut pandangnya harus dibenahi. Holistik bukan mempelajari semuanya tapi akhirnya lupa semuanya. Holistik adalah bagaimana kita menjadi segiempat keilmuan atau bahkan lingkaran, yang memandang semua hal secara utuh karena kita harus dituntut menyelesaikan banyak masalah keruangan”. Kami pun sadar bahwasanya banyak bergaul dan membaca, memperbanyak literasi itu sangat penting. Aftaf melanjutkan: “Sejarah muncul karena bukti prasejarah. Geografi harus meninggalkan pemikiran ruang. Pemahaman ruang adalah iman geografi untuk mengarungi kehidupan terjal ini”

Kami semua sepakat dan menyayangkan banyak konsultan kita yang bekerja hanya sebatas mengoperasikan GIS. Juga dunia perbankan saat ini yang secara tidak langsung mengambil banyak tenaga ahli tidak hanya geografi, pertanian, kelautan bahkan ilmu strategis yang dibutuhkan kemajuan Indonesia ke perekrutan mereka. Semua jurusan diambil bahkan sastra. Akhirnya peradaban yang hidup di tengah kita adalah peradaban kredit perbankan. Bukan peradaban penemu dan riset ilmiah.

"Don Dipa Damatra"
Dipa kemudian sharing bagaimana dia terjun dalam dunia Migas. “Geografi sangat luas, saya harus memilih antara menjadi generalis atau spesialis seperti kata Bernhard Varenius. Supaya saya belajar banyak juga tapi tak hanya kulit. Setelah lulus saya mengamati dalam kehadiran migas, orang-orang kita absen. Banyak rekruitmen geografi tapi harus disandarkan pada ilmu lain atau sertifikasi. Saya kenal orang Geo di Conoco tapi dengan sertifikasi Amdal, harus ada sertifikasi. Saya harap geografi ke depan harus maju. Tidak saling ribut apalagi memperdebatkan benar salah karena itu bisa dicari, apalagi mencari siapa yang salah. Dipa menjelaskan secara umum banyak dari keilmuan dan pendidikan kita diaborsi sebelum menjadi tinggi. Ini istilah metalnya Dying Fetus” Katanya sambil mengacungkan tangan tanda dia adalah anak Metal. Dia kemudian membuka bajunya dan ternyata tidak bertato, straight X.

Budi menjelaskan ketika di pemerintahanpun kita harus hidup dengan argumen yang kuat mengenai keilmuan. “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat” kalau kata HOS Tjokroaminoto, salah seorang guru Soekarno. Momod Aftaf kemudian mempersilakan Daydeh, seorang geografi yang menggalau untuk menjelaskan perihal Ijtihad ruang dan berbagai pengalalan-pengalamannya.

Daydeh menjelaskan bahwasanya ijtihad ruang itu penting. Tidak bergantung kepada siapapun, semua dari kita harus menemukannya. Daydeh menjelaskan banyak akar yang seharusnya kita paham mengapa informasi spasial sekarang bisa seperti ini. Bapak kita di BIG (Badan Informasi Geospasial) melakukan satu keputusan mendasar dari kebijakan yang berimbas sistemik kepada dunia pemetaan. “Mereka mengimpor software dan itu paling terasa buat kita. Kalau kita impor beras saja petani kita mati. Kalau kita impor software, maka anak-anak muda kita yang akan mati kreativitasnya. Sekarang anak muda kita benar-benar mati karena ini”

Daydeh menjelaskan solusinya, bukannya dia tidak setuju software pemetaan impor tapi kita harus menggunakan kecerdasan pemikiran lelhuhur kita yaitu bagaimana kita berpikir parallel “Impor tapi sambil riset sendiri, kalau sungguh-sungguh pasti 4-5 tahun kita bisa menciptakan ini. Gue suka bukapetanya Danu yang asaznya menghemat pengeluaran Negara”. Kemudian dia menjelaskan perihal pelatihan di sebuah kementerian yang membeli software sebesar 1 milyar. Daydeh bilang “Bayangkan! Penyalahgunaan 1 M dengan keputusan pembelian software impor akan membunuh 16 orang anak muda/mahasiswa kita dengan asumsi gaji mereka sekitar 5Jt perbulan. Berapa jika 5M? itu akan bisa membunuh mahasiswa satu angkatan: 80 orang. Berapa jika trilyunan??? Kita tidak akan maju kalau seperti ini terus” Katanya sambil ngamuk seperti jaran kepang.

Daydeh menyarankan kita harus banyak menggunakan open source. Kalau pun impor dan banyak dari instansi yang bisa memakainya itu buat apa? Atau misal membangun webgis tapi hanya templatenya tidak ngoprek dari awal. “Gue sedang membayangkan bagaimana kalau kita tidak diinject software luar seperti ini. Tapi ini semua hasil kebijakan saudara-saudara, harus kita terima dengan pahit. Substansinya sudah bukan ilmu apalagi solusi tapi uang dan perdagangan. Juga ini adalah imbas dari kita yang terlalu nurut sama asing. Juga saya menyayangkan para teknisi memahami ruang hanya koordinat 3 dimensi. Padahal ruang punya dimensi n, ada dimensi lainnya bernama rasa, apa yang sedang kita hayati malam hari ini. Nyaman menjadi karakter berhasilnya ruang. Daydeh menjelaskan itu kunci utama keberhasilan penerapan ruang. Kalau tidak ada kenyamanan di masyarakat maka rasa, nilai/value dari ruang itu hilang. “Wanita tanpa value hanya kecantikan yang dingin” Kata Daydeh sambil memeluk gitar akustiknya.

“WEBGIS yang sedang popular sekarang hanya akan bernilai ketika kita paham value ruang. Selama ini perencanaan ruang kita hanya berdasarkan statistik, bagaimana membuat ekonomi lebih maju, memperluas lapangan kerja tapi mengabaikan aspek ruang. Kalau kita paham bagaimana spasial kita akan mengerti mengapa ini semua terjadi. Geografi pada maqom tertinggi akan bisa melakukan prediksi ruang beberapa puluh tahun kemudian” Kata Daydeh. Aftaf kemudian membuka pernyataan perihal sebenarnya Geografi semakin dibutuhkan hari ini, tapi kita harus tahu dimana pintu masuknya.

"Project di Bappenas"
Daydeh kemudian menjelaskan garapannya di Bappenas perihal skenario ruang, termasuk pembangunan pelabuhan di sebuah provinsi. Disini kita bisa tahu efek terhadap ruangnya akan bagaimana. Kita bisa membuat dampak-dampak dari trend, melihat tanah, pemukiman vertikal, atau bahkan prediksi yang terjadi terhadap ruang ketika ada penghancuran sawah. Kita tahu dengan ekonomi suatu daerah akan maju tapi ruangnya akan stag, mandeg seperti Jakarta dalam waktu dekat. GIS sendiri menurut Daydeh adalah matematika dimana punya nilai paling besar 0-9. “Kita harus kreatif mengambil variabel dalam konsep awal ruang, perencanaan wilayah. Kebenaran ruang itu kebenaran mutlak sehingga kalau kita paham kita akan hati-hati dengan konsekuensi ruang” Katanya

Budi berkata: “Geografi sebenarnya adalah ilmu presiden dan ilmunya menteri dalam mengambil pengambilan keputusan. Mana ada kebijakan yang tidak punya ruang?” Kita ingat bahwasanya Sujiwo Tejo pernah menyindir gelar Dr kepada presiden tempo dulu adalah gelar sektoral, dengan ilmu semakin sempit. “Presiden itu holistik, bukan sektoral” Kata Mbah Tejo. Ingatlah ajaran kita, geografi itu holistik.

Aftaf selaku momod khawatir oorang-orang diatas sudah tidak mendengar fatwa-fatwa geografi. Ketika geografi tidak dihargai pemerintah, akan terjadi kebenaran ini: “Bila ruang tidak dipasrahkan ahlinya maka tunggulah kerusakannya”. Daydeh mencoba menengahi bahwa geografi sendiri akan menang pada suatu hari dengan personality bukan dengan mengedepankan prestasi atau pencapaian. Kita akan jaya kalau liar, termasuk tidak nurut kepada asing. Karena itu musik penting untuk keliaran kita juga mengembangkan otak kanan kita.

Kami kemudian menyanyikan lagu Slank yang berjudul tong kosong nyaring bunyinya, karena otak hampir njebluk. Setelah adem kami membahas bahwasanya kita jangan menjadi alat produksi bagi ilmu dan filsafat barat. Kita harus banyak belajar dari kegagalan-kegagalan nasional. Seperti pesan Filsuf Indonesia Tan Malaka: “Hanya cara berpikir & bekerja yang rasional kita bisa membawa manusia dari ketakhayulan, kelaparan, wabah pnyakit & perbudakan menuju pada kebenaran yang bukan logika mistik”.

“Banyak bapak-bapak kita di pemerintahan yang masih awam IT, kita harus membantu mereka. Juga disana peta dan software dianggap mewah karena impor. Kita dijajah bro! kita harus mengembangkan sendiri peralatan-peralatan kita. Supaya kita juga bekerja sedikit tapi bermanfaat.” Daydeh berapi-api ring of fire.

“Tahu nggak Tafsir dari Qur’an surat Al Isra? Hidup itu jangan jelas karena otak kita, bahkan data geografi hanya bisa memproses masa lalu dan masa kini. Masa depan itu misteri, termasuk masa depan kita geografi. Kita harus selalu meluruskan niat baik ketika berjalan” Kata Daydeh

“Kesendirian itu membahayakan. Saya buktinya. Kita perlu ingat bahwasanya gila proyek pun membuat kita tidak rasional, saya gila proyek juga loh. Tapi sedang berimajinasi bagaimana membuat konsultan geografi yang tanpa syarat, tanpa sogokan. Transaksi-transaksi siluman bisa menghancurkan kita. Kitalah yang harus mengubah system ini. Saya tidak ingin menggunakan pendekatan perusahaan karena perusahaan itu sudah wataknya membesarkan perusahaan, bukan membesarkan manusia. Sehingga manusia hanya digunakan sebagai onderdil”

Kami yang tepar terus mendengarkan Daydeh ngoceh. “Ngomong opo sakjane sampeyan???” Kata Budi. Daydeh melanjutkan imajinasinya “Kerja itu tidak harus sesuai jurusan, yang penting azaz manfaatnya. Juga kerja apapun kita harus seneng seperti pacaran. Manusia ada 3: fisik, jiwa, pikiran. Di geografi, kita kenali ruang apapun pekerjaan kita. Temukan kegelisahan ruang dan jawablah. Seni penting disini sebagai kekuatan berpikir, menjawab kegelisahan itu”

Kami semakin mumet. Jam menunjukan pukul 00.00 tengah malam. Untuk menyingkat semua ini penulis teringat Gendro pernah bercerita, ketika terlalu abstrak ruang, maka ingatlah Prof. I Made Sandy pernah dengan sederhana menafsirkan ruang adalah tanah. Perjuangan kita Geograf adalah perjuangan tanah. Lalu pesan Pramoedya: “Orang yang tak pernah mencangkul tanah, justru paling rakus menjarah tanah dan merampas hak orang lain”

Waktu berlalu dalam kenyerian jomblo. Kami terpaksa harus berpisah dan saling mendoakan berjumpa dalam bahagia yang lain. Selamat menunaikan ibadah ruang.

(Ditulia oleh Budi Mulyawan, Taman Suropati, Sabtu 6 Maret 2015)