Jumat, 03 Juli 2015

Ngopi Geo 2: "Jakarta Urbanstep Paper (PDF)"

JKT Urbanstep is a concept of smart way to commute based on the willingness to walk more. This is the most reasonable and applicative way to start on changing Jakarta better, parallel with the improvements of integrated transportation systems. With more people come down to the pedestrian and with public transportation that always improving to become more efficient and effective. If this facility is built inline with the obligation that pressing down the number of private vehicles, the less people will commute in their vehicles, which means less traffic and pollution. Jakarta does not need theoretically hard knowledge from any professors to banish the traffic problems, it just needs a simple and applicative way that is easier to do, like the JKT Urbanstep concept.

This paper was written together by:
1. Aftaf Muhajir
2. Arif Rachman
3. Dedi Priyanto
4. Dyota Adhishakti Nandana
5. M. Budi Mulyawan

Download HERE

Solusi Macet Jakarta: Mlaku!

Jakarta Ibukota sekaligus pusat ekonomi Indonesia dengan jumlah penduduk tercatat pada tahun 2014 sebanyak 10.075.000 Jiwa dengan luas daratan sebanyak 661,52 km2. Kepadatan rata-rata kepadatan 15.230 jiwa/km2 yang hampir mencapai titik jenuh kepadatan penduduk. Penduduk Jakarta saat ini sudah mencapai 12,7 juta pada saat siang hari dan 9,9 juta pada saat malam hari. Kegagalan mengatasi masalah di Jakarta akan berimbas kepada kegagalan mengatasi banyak masalah Indonesia. Lebih dari 70% uang beredar di Jakarta. Satu tempat terjadi masalah di Jakarta akan mengakibatkan tempat lain di luar Jakarta terkena imbas ekonomi dan sosialnya. Satu contoh kecil pada saat tanah abang terbakar, ribuan orang menganggur di Pekalongan hanya dari segmen tekstil.

Jakarta adalah salah satu titik utama penerapan teori polarisasi, pusat pertumbuhan teori kutub pertumbuhan, juga teori tempat sentral pada masa orde baru di Indonesia. Dengan harapan bila majunya Jakarta, maka daerah-daerah lain juga akan mengikutinya. Teori ini dikemukakan oleh ekonomi Perancis Francois Perroux pada tahun 1955. Inti dari teori ini menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di tiap daerah tidak terjadi di sembarang tempat melainkan di lokasi tertentu yang disebut kutub pertumbuhan. Untuk mencapai tingkat pendapatan tinggi harus dibangun beberapa tempat pusat kegiatan ekonomi yang disebut dengan growth pole (kutub pertumbuhan).

Terpotret dalam syair Umbu Landu Paranggi “apa ada angin di Jakarta” yang merupakan protes keras terhadap pemakaian teori kutub pertumbuhan ini. Indonesia adalah negara kepulauan yang sejatinya tidak cocok menerapkan teori kutub pertumbuhan. Juga dibangun dengan teori benua bukan kepulauan. Tetapi penerapan teori ini tidak diimbangi apa yang disarankan oleh Myrdal yang juga penciptanya. Sentralisasi pembangunan suatu negara harus diimbangi dengan pembangunan desa, juga wilayah pinggiran dari pusat pertumbuhan tersebut. Gagalnya pembangunan desa dan pinggiran akan mengakibatkan apa yang disebut Everett lee dengan teori push and pull theory dimana para penduduk kota lain akan menuju ke pusat pertumbuhan. Inilah yang mencekam di Jakarta. Berdasar ata terkini Dukcapil DKI Jakarta, jumlah warga yang mudiksaja  dari Ibu Kota sebanyak 3.616.774 jiwa. Aktivitas sentral dan banyaknya para pendatang yang tidak seimbang dengan kesiapan infrastruktur Jakarta kemudian menciptakan ratusan titik macet.

Sebuah rilis data mengejutkan kita semua bahwa kemacetan Jakarta telah mengakibatkan kerugian sebanyak 65 Trilyun padahal pada tahun 2015 DKI menganggarkan hanya 1 Trilun untuk seluruh DKI. Kita bisa memiliki 65 x lipat jembatan layang jika seandainya Jakarta tidak merugi dengan macetnya. Konsep macet sama  halnya dengan pencernaan makanan. Ada yang masuk ada yang keluar. Jakarta tidak membatasi yang masuk juga tidak segera mengeluarkan yang tidak perlu sehingga terjadi komplikasi masalah-masalah yang tidak akan pernah selesai dengan pendekatan sektoral.

Kita masih ingat pada tahun 1970, laju perkembangan penduduk ini pernah coba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi pendatang. Juga ditawarkan banyak sekali solusi dari para pakar seperti Contraflow juga gagal karena tidak memperhatikan arus lain di persimpangan jalan utama. Konsep 3in1 juga tidak efektif sama halnya ide penutupan jalan. Juga ada wacana Jakarta menerapkan ERP meniru di Singapore yang jelas akan diprotes masyarakat karena “money sentris” dan tidak membela rakyat. Plat Ganjil Genap yang hanya retorika belaka. Juga ada ide motor masuk tol karena sudah sangat kehabisan ide. Ada pula yang logis seperti penaikan pajak, moratorium penambahan kendaaraan di Jakarta

Solusi-solusi ini bagaikan obat sintesis yang akan menimbulkan efek lain, tidak merupakan solusi yang sangat menyeluruh. Kita tidak mungkin lagi menyiram kebakaran hutan dengan seember air. Kita mungkin sedang lupa dan panik bahwasanya solusi ini baru menjangkau solusi bagi kendaraan tapi belum menyentuh solusi kemanusiaan yang nyata. Solusi macet Jakarta adalah memahami manusianya seutuhnya. Perlu ide gila mengatasi macet Jakarta (Wadirlantas Polda Metro Jaya, AKBP Sambodo Purnomo). Sebuah ide gila yang radikal akan efektif jika kita membaca sejarah macet dan kegagalan solusinya di Jakarta.

Fitrah manusia adalah berjalan kaki alias mlaku. Setelah mengenal kendaraan mereka memakai motor dan mobil. Solusi dari macet Jakarta adalah kembali ke akar dari permasalahan sendiri yaitu manusia jakarta. Jakarta bukan Hongkong, bukan Singapore, bukan Jepang karena Jakarta adalah Jakarta. Kita bisa belajar dari kota atau negara lain tapi kita harus muncul sebagai diri sendiri dan apa yang Bob Sadino bilang “kita bukan mesin fotokopi”. Tidak bisa solusinya meniru mereka karena solusi di kota lain berangkat dari belajar manusianya. Kita mesti tahu bahwa revolusi mental yang sesungguhnya untuk menciptakan innerstrengh dan melahirkan generasi penerus yang fanatik terhadap jalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum. Segmen dari revolusi ini adalah penduduk Jakarta usia 20-35 yang merupakan generasi muda dengan statistik terbesar pada piramida penduduknya. Ini penting sebelum faktor eksternal dibenahi seperti pengurangan kendaraan yang terus dituang di Jakarta.

Walk to work dapat menjadi titik balik peradaban di Jakarta asal dijalankan sungguh-sungguh, didukung semua elemen masyarakat juga dilakukan apresiasi terhadap jalan kaki ini. Solusi ini adalah solusi untuk manusia Jakarta bukan untuk Jakarta sebagai kota. Jika solusi ini sudah menjadi jiwa manusia Jakarta maka akan mudah membuat solusi sekunder lainnya Solusi ini menjadi titik berangkat solusi-solusi lain. Simpelnya solusi dibagi menjadi dua yaitu pembenahan mental dan kemudian baru muncul solusi eksternal berupa apresiasi terhadap pejalan kaki ataupun pengguna public transportation. Sebuah jakarta yang ramah untuk para pejalan kaki dan pengguna angkutan umum. Kita sering bermimpi mengubah Jakarta tetapi lupa mengubah diri sendiri untuk Jakarta (Budi Mulyawan)

Literatur:
http://bappedajakarta.go.id/
http://www.jakarta.go.id/web/bankdata/mostdownload
http://www.census.gov/hhes/commuting/

LGBT (Lo Gue Basi Banget)

"LGBT Paintings"
Oke,dari judul nya aja gue udah salah kaprah, pertama kali gue baca tentang kontroversi LGBT di fesbuk, twitter mah adem ayem soalnya gue follow selebtwit yang kebanyakan penyuka sesama jenis, alesannya apa? Ya karena kepo aja sih, kadang banyak cerita mereka yang menarik,lumayan buat hiburan. Balik lagi ke masalah LGBT sebagai orang indonesia yang "rempong cyin" gue wajib membahas tentang ini.
     
LGBT itu kan kebijakan dari amriki ye.. mereka menyetujui dan melegalkan pernikahan sesama jenis,baik pria dengan pria,wanita dengan wanita. Dan gue adalah orang yang bukan islami banget. Tapi gue dengan tegas menentang kebijakan ini,apalagi indonesia ikut-ikutan melegalkan. kenapa? Ngeri coy, lelaki aja udh dikit ye, gmana nasib wanita-wanita pencinta lelaki ganteng (Macam gue), gimana coba rasa nya dikalahkan oleh lelaki lain? PEDIH.

Disisi lain kemanusian mereka yang "terlanjur" mencinta sesama jenis pun tak bisa disalahkan, yang salah itu dia "menularkan" kepada orang lain yang awal nya straight. Kok nular? Emang penyakit? Bukan. Orang indonesia mah konsumtif dikit2 kebawa arus, liat aja, hidupnya susah gara2 iphone 6, jadi ya gitu entah apa alasannya kebawa2,ga percaya?silahkan aja coba sendiri, nanti kasih kabar ke gue ya.

Masalah LGBT ini orang terkenal aja macam sherina di hujat,apalagi temen SMA gue yang bukan seleb. Gue kasian sih,padahal dia cuma masang poto profile fesbuk pake muka dia terus warna warni kaya pelangi, kata nya itu simbol pro dengan kebijakan LGBT, jadi gue memutuskan untuk kontra (semudah itu), ribet amat ye hidup, keputusan ada di negara yang nun jauh dimata, kita yang rusuh. Iya rusuh? Karena kita sebagai orang yang beriman punya pegangan berupa Al qur'an, yang dimana disana ada kisah tentang kaum Nabi Luth (kaum Nabi luth di tuliskan pada surat Al. Araaf ayat 80-81) dan bagaimana Allah SWT mendatangkan azab berupa dijatuhinya batu-batu dari langit dan tanah yang terbakar ( Al Qur'an surah Hud ayat 76 - 83),gimana gue ga jiper sama ketentuan Allah SWT.

Jadi kontra LGBT karena takut azab? Oh jelas iya. Kiamat memang ga bisa kita elak-kan, tapi ya bisa dong kita tidak memicu datangnya kiamat kiamat kecil akibat perbuatan kita. Sudah sepantasnya hidup ini menebarkan kebaikan walaupun kecil dan tidak bisa memberikan gelombang besar pada lingkungan sekitar, paling engga diri sendiri dibenerin,jangan merusak diri dengan penasaran katanya "nular" kemudian ikut-ikutan. Bukan membatasi diri tapi menjaga. Semoga kita adalah orang orang yang bisa menjaga diri, dan tidak merugikan orang lain karena tindakan kita, dan semoga kalian kalian tidak merasa rugi waktu dengan membaca tulisan saya ini,anggaplah hiburan dari pemikiran otak gue yang sedikit,udh sedikit, ga dipake lagi.

Oke sampai jumpa bulan depan... ciaoo bellaaa.. muach. (Dea Amelia, Cilegon,3 Juli 2015)

Sabtu, 07 Maret 2015

Reportase Ngopi Geografi Perdana (Jum'at, 6 Maret 2015)

"Diskusi Perdana Kami"
“Ruang adalah debar jantung dan iman kita para geograf, apapun pekerjaan kita”. Aftaf sebagai moderator alias momod membuka ucapan terima kasih atas kedatangan teman-teman pada dialog kecil yang membahas mengenai tafsir ruang. Sebagai geograf kita perlu ijtihad, menemukan tafsir ruang masing-masing kemudian diterapkan pada sendi-sendi kehidupan kita, bukan mengekor kepada orang lain apalagi paham impor dari luar. Geografi kita jalan tengah pancasila, tidak terlalu radikal apalagi liberal “umatan wasathon” kalau di Bahasa arabnya. Dialog ini muncul karena rindu kami terhadap fitrah geografi.

Pertemuan dibuka dengan lagu Adele, someone like you dinyanyikan oleh Budi agar semua yang hadir bisa tegar menjalani kehidupan. “Sudah putusin aja” kata Felix Siau. Kami tidak bisa menerima ini. “Cinta harus bertahan dan diperjuangkan sama seperti geografi. Ketika kita lulus, kita semua belum menjadi geograf sejati sampai ilmu ini manunggal kedalam jiwa” katanya sambil salto.

Budi membacakan pengantar, ruang sendiri sudah diterapkan pada banyak kata strategis di Pemerintahan seperta pendekatan-analisa ruang, tata ruang, informasi ruang. Penerapan ini tidak akan berhasil kalau tidak paham kata ruang, tidak paham bagaimana menghayati ruang. Penghayatan ruang adalah bagaimana bersatunya pikiran-hati manusia dan ruang dalam abstrak sehingga menghasilkan inklinasi, keputusan dalam daerah/wilayah. Penataan ruang adalah bagaimana menata logika dan perasaan ruang. Ini penting untuk Geograf karena ketika kita gagal menghayatinya maka akan berdampak gagal pula pandangan kita mengenai wilayah dan daerah. Selama ini pula yang dibahas geogafi dari akademisi hingga praktisi adalah wilayah daerah ini beserta toolsnya, tapi meninggalkan penghayatan akan ruang ini. Rumusan sederhananya jika ada pemahaman ruang yang keliru di dunia abstrak, dalam hati dan di dalam akal sehat. Maka akan rusak pula perilaku kita di dunia nyata: perilaku pengambilan keputusan ruang akan wilayah,daerah, dan tempat.

"Singing Adele, Someone Like You"
Tuhan menurunkan dua ilmu berkah ke dunia ini tentang dua hal yang tak bisa lepas dari manusia: waktu dan ruang, yang pada penurunan ilmunya menjadi sejarah dan geografi, dua ilmu yang ditenggelamkan oleh kita sendiri karena mainstream pasar. Lihat karena ruang munculah kebesaran arsitektur, sebuah ilmu purba estetika ruang dari jaman leluhur. KH. Said Agil Siradj pernah bilang bahwasanya “sebuah ideologi apapun tak bisa berdiri tanpa ruang”. oleh karena itu dahulu NU harus membela NKRI. Seperti apa yang Buya Hamka bilang “Nasionalisme itu untuk membangun Negeri” sebagai landasan Muhammadiyah tentang NKRI. karena disinilah tempat mereka. Bahkan para teolog Islam karena paham apa itu ruang, mereka menemukan siapa itu Tuhan.

Pada literatur geografi kami harus benar-benar berhati-hati membedakan apa itu "wilayah" apa itu "daerah". Dulu wilayah, berasal dari bahasa arab: dekat (walayatun). Merupakan ruang gaib tuhan untuk kewalian sedangkan nubuwat untuk kenabian. Definisi ini dipersempit oleh geografi (agar jelas tampak/teknisnya) yaitu ruang pada permukaan bumi yang dibatasi garis khayal: "kesepakatan-kesepakatan manusia".

Ruang sendiri pada ilmu filsafat adalah "sesuatu yang aneh" bukan waktu, bukan pula benda terstruktur. Ada tapi tak bisa diraba. Ruang diibaratkan "kolong" dia ada, tapi sulit dijelaskan keberadaannya. Kita lebih jelas melihat meja daripada kolongnya. Dijelaskan oleh Made Sandy kemudian terjadilah yang menurut Emanual Kant, kita terpecah menjadi kepentingan-kepentingan ilmu itu sendiri. Pada geograf, tetap saja ruang tak ada batasan. Kemudian dibatasi dengan "garis kesepakatan" tadi menjadi wilayah. Wilayah sendiri belum terlalu spesifik dan jelas. Maka kemudian dimunculkanlah istilah daerah. Yaitu: wilayah+karakteristik. Itu mengapa: daerah aliran sungai, bukan wilayah aliran sungai, daerah banjir, daerah khusus ibukota. bukan wilayah. Daerah harus "spesifik". Daerah adalah anak dari ibu bernama wilayah, cucu dari ruang, analogi mudahnya begitu.

Wilayah ada dua: formal/uniform dan nodal/node/fungsional. Ibarat ibu-ibu muda: formal adalah fisiknya, fungsional adalah batinnya. Wilayah formal jelas batasannya, spesifik dan umum, berlandaskan pada kesamaan. Ex:iklim, vegetasi, dsb. Ibarat ibu, terjadi perbedaan fisik/formal. Misal: ada ibu kurus, ibu gemuk, ibu cantik, ibu gempal. Dari perbedaan ini akan lahir bayi beda. Daerah lahir dari sini: dari wilayah formal, dari ibu2 yang sudah dikelompokan/diklasifikasi itu sehingga daerah harus unik/spesifik. Wilayah fungsional/nodal atau node itu merupakan wilayah imajiner, pada ibu2 adalah batinnya. Batas ruangnya bisa berubah. Syarat wilayah fungsional/nodal: ada pusat, ada arus, ada jaringan, wilayah dapat meluas. Tentu saja ini bukan fisik (daerah ekivalen fisik). Untuk melihat wilayah, daerah harus peta. Untuk melihat ruang tidak harus karena ruang abstrak. Ada istilah ruang hati: abstrak, disinilah apa yang menurut buku Spatial Behavior diambil “keputusan ruang”, dimana harus didasari dengan niat yang bersih dalam pengambilan keputusannya.

Mas Taqi memberikan tulisan penjelasan dari facebook supaya menyederhanakan ini: “keberadaan perbedaan ruang satu dengan ruang lainnya di permukaan bumi ini, disitulah geografi bisa bekerja, baik ruang yang dimaksud dengan space, maupun ruang sebagai place (kognisi manusia) atau keduanya. Manusialah yang memunculkan place, dan proses space menjadi place tanggung jawab manusia (khalifah). "Place "Culture" is how people do things around here" (Stephen Hill). Sebagai penerapan dari contoh ini, Di pulau Nias ada kepercayaan : “siapa yang melihat matahari lebih dahulu dialah yang paling berkah” Karena kepercayaan ini, maka banyak penduduk yang tinggal di wilayah yang lebih tinggi (space) dan menjadikan tempat yang tinggi di Nias menjadi lebih special (place). Inilah bagaimana cara sederhana memahami ruang.

"Momod Aftaf"
Momod Aftaf memberikan kesempatan pertama untuk sharing kepada Kelpin. Dia membuka cerita bahwasanya penyakit keilmuan sekarang yang hinggap di Universitas adalah terlalu bangga dengan keilmuannya. Ilmu di Universitas itu tanaman atau tumbuhan, tidak ada hutan kalau mereka saling membanggakan diri. Mengutip kata-kata dari Rendra: “Apalah arti kesenian bila terpisah dari derita lingkungan, apalah arti berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan”. Lalu apakah arti ilmu kita bila kita berpisah dari fenomena geografi dan tragedi kemasyarakatan?

“Lulus geografi saya menempuh jalan jurnalistik meninggalkan karir di project sebagai konsultan. Saat ini saya sadar bahwasanya geo kurang dikenal masyarakat luas. Ini bukan murtad keilmuan tapi bertahan dari kebutuhan” Katanya sambil ngakak. Dia melanjutkan: “Ilmu tidak boleh tenggelam, ikatan alumni kita sendiri harus kuat. Alumni yang sudah sukses diharapkan dapat mengibarkan keilmuan kita diluar supaya kita tidak seperti anak ayam yang kehilangan induknya, bahkan kehilangan kandangnya”. Semua harus berjuang dan struggle di Geo. Kepahitan-kepahitan ini harus kita rasakan dalam puasa ini. “Duka, luka dan bisa harus kita bawa berlari bila ingin Geografi hidup seribu tahun lagi” meminjam istilah Chairil Anwar. Lalu kami sepakat meminta kepada Kelpin supaya suatu hari bisa lahir dari tangannya “Geography of Journalism” dimana berita-berita yang disampaikan jurnalis bisa jujur, sesuai kebenaran Ruang.

Pak momod Aftaf merespon: “Istilah holistic harus direvolusi, sudut pandangnya harus dibenahi. Holistik bukan mempelajari semuanya tapi akhirnya lupa semuanya. Holistik adalah bagaimana kita menjadi segiempat keilmuan atau bahkan lingkaran, yang memandang semua hal secara utuh karena kita harus dituntut menyelesaikan banyak masalah keruangan”. Kami pun sadar bahwasanya banyak bergaul dan membaca, memperbanyak literasi itu sangat penting. Aftaf melanjutkan: “Sejarah muncul karena bukti prasejarah. Geografi harus meninggalkan pemikiran ruang. Pemahaman ruang adalah iman geografi untuk mengarungi kehidupan terjal ini”

Kami semua sepakat dan menyayangkan banyak konsultan kita yang bekerja hanya sebatas mengoperasikan GIS. Juga dunia perbankan saat ini yang secara tidak langsung mengambil banyak tenaga ahli tidak hanya geografi, pertanian, kelautan bahkan ilmu strategis yang dibutuhkan kemajuan Indonesia ke perekrutan mereka. Semua jurusan diambil bahkan sastra. Akhirnya peradaban yang hidup di tengah kita adalah peradaban kredit perbankan. Bukan peradaban penemu dan riset ilmiah.

"Don Dipa Damatra"
Dipa kemudian sharing bagaimana dia terjun dalam dunia Migas. “Geografi sangat luas, saya harus memilih antara menjadi generalis atau spesialis seperti kata Bernhard Varenius. Supaya saya belajar banyak juga tapi tak hanya kulit. Setelah lulus saya mengamati dalam kehadiran migas, orang-orang kita absen. Banyak rekruitmen geografi tapi harus disandarkan pada ilmu lain atau sertifikasi. Saya kenal orang Geo di Conoco tapi dengan sertifikasi Amdal, harus ada sertifikasi. Saya harap geografi ke depan harus maju. Tidak saling ribut apalagi memperdebatkan benar salah karena itu bisa dicari, apalagi mencari siapa yang salah. Dipa menjelaskan secara umum banyak dari keilmuan dan pendidikan kita diaborsi sebelum menjadi tinggi. Ini istilah metalnya Dying Fetus” Katanya sambil mengacungkan tangan tanda dia adalah anak Metal. Dia kemudian membuka bajunya dan ternyata tidak bertato, straight X.

Budi menjelaskan ketika di pemerintahanpun kita harus hidup dengan argumen yang kuat mengenai keilmuan. “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat” kalau kata HOS Tjokroaminoto, salah seorang guru Soekarno. Momod Aftaf kemudian mempersilakan Daydeh, seorang geografi yang menggalau untuk menjelaskan perihal Ijtihad ruang dan berbagai pengalalan-pengalamannya.

Daydeh menjelaskan bahwasanya ijtihad ruang itu penting. Tidak bergantung kepada siapapun, semua dari kita harus menemukannya. Daydeh menjelaskan banyak akar yang seharusnya kita paham mengapa informasi spasial sekarang bisa seperti ini. Bapak kita di BIG (Badan Informasi Geospasial) melakukan satu keputusan mendasar dari kebijakan yang berimbas sistemik kepada dunia pemetaan. “Mereka mengimpor software dan itu paling terasa buat kita. Kalau kita impor beras saja petani kita mati. Kalau kita impor software, maka anak-anak muda kita yang akan mati kreativitasnya. Sekarang anak muda kita benar-benar mati karena ini”

Daydeh menjelaskan solusinya, bukannya dia tidak setuju software pemetaan impor tapi kita harus menggunakan kecerdasan pemikiran lelhuhur kita yaitu bagaimana kita berpikir parallel “Impor tapi sambil riset sendiri, kalau sungguh-sungguh pasti 4-5 tahun kita bisa menciptakan ini. Gue suka bukapetanya Danu yang asaznya menghemat pengeluaran Negara”. Kemudian dia menjelaskan perihal pelatihan di sebuah kementerian yang membeli software sebesar 1 milyar. Daydeh bilang “Bayangkan! Penyalahgunaan 1 M dengan keputusan pembelian software impor akan membunuh 16 orang anak muda/mahasiswa kita dengan asumsi gaji mereka sekitar 5Jt perbulan. Berapa jika 5M? itu akan bisa membunuh mahasiswa satu angkatan: 80 orang. Berapa jika trilyunan??? Kita tidak akan maju kalau seperti ini terus” Katanya sambil ngamuk seperti jaran kepang.

Daydeh menyarankan kita harus banyak menggunakan open source. Kalau pun impor dan banyak dari instansi yang bisa memakainya itu buat apa? Atau misal membangun webgis tapi hanya templatenya tidak ngoprek dari awal. “Gue sedang membayangkan bagaimana kalau kita tidak diinject software luar seperti ini. Tapi ini semua hasil kebijakan saudara-saudara, harus kita terima dengan pahit. Substansinya sudah bukan ilmu apalagi solusi tapi uang dan perdagangan. Juga ini adalah imbas dari kita yang terlalu nurut sama asing. Juga saya menyayangkan para teknisi memahami ruang hanya koordinat 3 dimensi. Padahal ruang punya dimensi n, ada dimensi lainnya bernama rasa, apa yang sedang kita hayati malam hari ini. Nyaman menjadi karakter berhasilnya ruang. Daydeh menjelaskan itu kunci utama keberhasilan penerapan ruang. Kalau tidak ada kenyamanan di masyarakat maka rasa, nilai/value dari ruang itu hilang. “Wanita tanpa value hanya kecantikan yang dingin” Kata Daydeh sambil memeluk gitar akustiknya.

“WEBGIS yang sedang popular sekarang hanya akan bernilai ketika kita paham value ruang. Selama ini perencanaan ruang kita hanya berdasarkan statistik, bagaimana membuat ekonomi lebih maju, memperluas lapangan kerja tapi mengabaikan aspek ruang. Kalau kita paham bagaimana spasial kita akan mengerti mengapa ini semua terjadi. Geografi pada maqom tertinggi akan bisa melakukan prediksi ruang beberapa puluh tahun kemudian” Kata Daydeh. Aftaf kemudian membuka pernyataan perihal sebenarnya Geografi semakin dibutuhkan hari ini, tapi kita harus tahu dimana pintu masuknya.

"Project di Bappenas"
Daydeh kemudian menjelaskan garapannya di Bappenas perihal skenario ruang, termasuk pembangunan pelabuhan di sebuah provinsi. Disini kita bisa tahu efek terhadap ruangnya akan bagaimana. Kita bisa membuat dampak-dampak dari trend, melihat tanah, pemukiman vertikal, atau bahkan prediksi yang terjadi terhadap ruang ketika ada penghancuran sawah. Kita tahu dengan ekonomi suatu daerah akan maju tapi ruangnya akan stag, mandeg seperti Jakarta dalam waktu dekat. GIS sendiri menurut Daydeh adalah matematika dimana punya nilai paling besar 0-9. “Kita harus kreatif mengambil variabel dalam konsep awal ruang, perencanaan wilayah. Kebenaran ruang itu kebenaran mutlak sehingga kalau kita paham kita akan hati-hati dengan konsekuensi ruang” Katanya

Budi berkata: “Geografi sebenarnya adalah ilmu presiden dan ilmunya menteri dalam mengambil pengambilan keputusan. Mana ada kebijakan yang tidak punya ruang?” Kita ingat bahwasanya Sujiwo Tejo pernah menyindir gelar Dr kepada presiden tempo dulu adalah gelar sektoral, dengan ilmu semakin sempit. “Presiden itu holistik, bukan sektoral” Kata Mbah Tejo. Ingatlah ajaran kita, geografi itu holistik.

Aftaf selaku momod khawatir oorang-orang diatas sudah tidak mendengar fatwa-fatwa geografi. Ketika geografi tidak dihargai pemerintah, akan terjadi kebenaran ini: “Bila ruang tidak dipasrahkan ahlinya maka tunggulah kerusakannya”. Daydeh mencoba menengahi bahwa geografi sendiri akan menang pada suatu hari dengan personality bukan dengan mengedepankan prestasi atau pencapaian. Kita akan jaya kalau liar, termasuk tidak nurut kepada asing. Karena itu musik penting untuk keliaran kita juga mengembangkan otak kanan kita.

Kami kemudian menyanyikan lagu Slank yang berjudul tong kosong nyaring bunyinya, karena otak hampir njebluk. Setelah adem kami membahas bahwasanya kita jangan menjadi alat produksi bagi ilmu dan filsafat barat. Kita harus banyak belajar dari kegagalan-kegagalan nasional. Seperti pesan Filsuf Indonesia Tan Malaka: “Hanya cara berpikir & bekerja yang rasional kita bisa membawa manusia dari ketakhayulan, kelaparan, wabah pnyakit & perbudakan menuju pada kebenaran yang bukan logika mistik”.

“Banyak bapak-bapak kita di pemerintahan yang masih awam IT, kita harus membantu mereka. Juga disana peta dan software dianggap mewah karena impor. Kita dijajah bro! kita harus mengembangkan sendiri peralatan-peralatan kita. Supaya kita juga bekerja sedikit tapi bermanfaat.” Daydeh berapi-api ring of fire.

“Tahu nggak Tafsir dari Qur’an surat Al Isra? Hidup itu jangan jelas karena otak kita, bahkan data geografi hanya bisa memproses masa lalu dan masa kini. Masa depan itu misteri, termasuk masa depan kita geografi. Kita harus selalu meluruskan niat baik ketika berjalan” Kata Daydeh

“Kesendirian itu membahayakan. Saya buktinya. Kita perlu ingat bahwasanya gila proyek pun membuat kita tidak rasional, saya gila proyek juga loh. Tapi sedang berimajinasi bagaimana membuat konsultan geografi yang tanpa syarat, tanpa sogokan. Transaksi-transaksi siluman bisa menghancurkan kita. Kitalah yang harus mengubah system ini. Saya tidak ingin menggunakan pendekatan perusahaan karena perusahaan itu sudah wataknya membesarkan perusahaan, bukan membesarkan manusia. Sehingga manusia hanya digunakan sebagai onderdil”

Kami yang tepar terus mendengarkan Daydeh ngoceh. “Ngomong opo sakjane sampeyan???” Kata Budi. Daydeh melanjutkan imajinasinya “Kerja itu tidak harus sesuai jurusan, yang penting azaz manfaatnya. Juga kerja apapun kita harus seneng seperti pacaran. Manusia ada 3: fisik, jiwa, pikiran. Di geografi, kita kenali ruang apapun pekerjaan kita. Temukan kegelisahan ruang dan jawablah. Seni penting disini sebagai kekuatan berpikir, menjawab kegelisahan itu”

Kami semakin mumet. Jam menunjukan pukul 00.00 tengah malam. Untuk menyingkat semua ini penulis teringat Gendro pernah bercerita, ketika terlalu abstrak ruang, maka ingatlah Prof. I Made Sandy pernah dengan sederhana menafsirkan ruang adalah tanah. Perjuangan kita Geograf adalah perjuangan tanah. Lalu pesan Pramoedya: “Orang yang tak pernah mencangkul tanah, justru paling rakus menjarah tanah dan merampas hak orang lain”

Waktu berlalu dalam kenyerian jomblo. Kami terpaksa harus berpisah dan saling mendoakan berjumpa dalam bahagia yang lain. Selamat menunaikan ibadah ruang.

(Ditulia oleh Budi Mulyawan, Taman Suropati, Sabtu 6 Maret 2015)

Jumat, 26 September 2014

Buka Peta: Kearifan Lokal Pemetaan

Lisensi? Peta mahal? Peta data tertutup? Campur tangan asing? Kita harus mulai memberantasnya. Kita bisa menciptakannya sendiri. Sebuah impian dimana kita tidak bergantung asing, peta murah, sebuah peta terbuka, tematik yang bermanfaat untuk masyarakat banyak. Buka peta. Sebuah terobosan dari alumni Geografi UI dalam kreativitas dan kearifan teknologi lokal. Berikut adalah penjelasan dari buka peta yang tertulis di situsnya:

"Danu, Founder Bukapeta.com"
Bukapeta.com adalah proyek teknologi rintisan yang sedang kami kembangkan. Kami membangun tulang punggung (backbone) aplikasi pemetaan untuk wadah berbagi dan menampilkan data pemetaan, dengan menggunakan aplikasi sumber terbuka. Dua kegiatan utama yaitu Berbagi Peta dan Geoblogging. Masalah yang ingin diatasi: Peta adalah media yang sesuai untuk menggambarkan suatu fenomena di permukaan bumi. Penggunaan peta dalam menjelaskan suatu kajian dengan pemahaman keruangan, dapat memberikan sudut pandang lebih luas dan komprehensif pada kajian tersebut. Permasalahnya adalah, peta jarang digunakan oleh masyarakat untuk mendukung berita, kampanye atau berbagi informasi, dengan alasan keterbatasan data dan kesulitan pembuatan peta. Kami berusaha untuk meminimalkan kesulitan tersebut.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan: Dengan backbone aplikasi yang sudah kami bangun, kami berencana membangun dua aplikasi terapannya. Ada dua kegiatan utama yaitu Berbagi Peta dan Geoblogging. Kedua aplikasi tersebut saling terkait. Untuk Berbagi Peta, masyarakat dapat mengunggah peta, atau membuatnya secara online. Data tersebut tersimpan di dalam server, dan dapat diatur bagaimana peta tersebut disebarkan. Sedangkan Geoblogging, pengguna dapat membuat cerita yang bersifat keruangan, dengan peta miliknya atau milik pengguna lain. Kelebihannya adalah, pengguna dapat menggabungkan cerita, foto, gambar dan video dalam sebuah peta dengan alur cerita yang mereka tentukan. Hasil dari dari blog tersebut dapat ditampilkan dalam halaman khusus pengguna melalui website.

"Tampilan Bukapeta.com"
Kedepannya, kami mempersiapkan dapat diakses melalui aplikasi handphone berbasis Android dan iOS. Kami akan mengupayakan aplikasi ini gratis selamanya dengan batasan tertentu. Untuk membiayai aplikasi ini di kemudian hari, kami akan membuat pilihan pengguna khusus berbayar yang memiliki fasilitas lebih. Penjajakan untuk pengguna khusus sudah mulai dilakukan saat ini. Keuntungan secara langsung akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia yang ingin menampilkan informasi keruangan. Keuntungan lain adalah masyarakat yang mendapatkan informasi dari para pengguna yang disampaikan melalui www.bukapeta.com. Karena dukungan dari kawan-kawan semua... akhirnya bukapeta dapat launching pada 14 November 2011. Meskipun baru memfasilitasi modul upload data dan belum bisa melakukan editasi online, namun waktu itu kehadiran bukapeta seperti banyak yang memerlukan. Oleh karena itu kami semangat memperbaiki segala kekurangan yang ada hingga muncul bukapeta seperti yang ada sekarang ini.

Dua foundernya, Danu dan Satrio, mengundurkan diri dari National Geographic Indonesia dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mewujudkan mimpinya. Berikut adalah wawancara yang tercantum di wustuk.com:

1. Kenapa peta? Bukan toko online, website iklan, atau yang lainnya?
Satrio: Karena saya lulusan Geografi. Itu adalah passion saya sejak dulu
Danu: Bisanya memang bikin peta. Dan teknologi saat ini sangat mendukung untuk itu

2. Apa bedanya dengan Google Maps?
Satrio: Google Maps jelas menjadi acuan. Begitu juga dengan layanan peta online seperti GIS Cloud atau GeoCommons. Tapi ketiganya masih miskin peta tematik dan cerita. Fitur bercerita menggunakan peta itulah yang ditawarkan oleh Buka Peta
Danu: Google Maps adalah layanan peta dasar. Buka Peta menawarkan kesempatan bagi semua orang untuk membuat peta tematik mereka sendiri, sesuai keinginan dan kebutuhannya

3. Visinya hobi atau bisnis? Kalau bisnis, apa memang prospeknya bagus?
Satrio: Keduanya juga boleh! Kalau ada orang butuh jasa pembuatan peta online, kami siap menyediakannya. Hitung-hitung mengurangi aliran dana keluar negeri. Kalau orang Indonesia bisa, kenapa mesti pakai jasa orang asing?
Danu: Secara bisnis, Buka Peta adalah portofolio kami. Siapa butuh dan merasa yakin dengan kemampuan kami, silahkan membuka pintu kerja sama. Dari sisi publik, ini juga akan jadi layanan terbuka untuk masyarakat umum. Dan prospeknya, sangat bagus! Saat ini yang sudah menggunakan layanan semacam ini adalah industri perkebunan, ritel, dan perbankan

4. Teknologi dibalik ini semua, apakah sulit dikuasai dan mahal?
Satrio: Jika mulai dari nol, tentu sangat sulit! Apalagi latar belakang keilmuan saya bukan teknologi informasi. Untungnya ada open source. Kami memanfaatkan Jquery, Open Layers, PHP dan berbagai teknologi open source lainnya. Kami racik sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan tertentu
Danu: Semua menggunakan open source, termasuk Map Server

5. Apa manfaatnya Buka Peta bagi orang Indonesia?
Satrio: Orang Indonesia harus memiliki akses pada data spatial-nya sendiri. Selama ini kan hanya sebagai objek survey, sementara kepemilikan data selalu di pihak asing? Semakin banyak peta tematik di Buka Peta nantinya juga akan membuka mata kita. Menjadikan kita lebih kenal negeri sendiri
Danu: Orang Indonesia harus segera sadar kondisi negerinya sendiri. Bercerita menggunakan peta tematik akan membuat kita paham konteks lokasi dari suatu kejadian, hingga tidak akan muncul lagi pertanyaan “Raja Ampat itu dimana sih?” atau “Rusuh di Mesuji, itu di propinsi mana, ya?”


Sumber:
wustuk.com
bukapeta.com

Kamis, 25 September 2014

Peta Interaktif ISIS

Serangan dari kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Negara Islam Irak dan Levant (dikenal sebagai Isis) telah mengambil Irak ke dalam perang saudara sektarian. Tentara Irak awalnya kalah, memungkinkan militan Sunni untuk mengambil alih kota-kota besar dan kota-kota termasuk Mosul, kota terbesar kedua di Irak. Sementara Isis telah menyatakan negara Islam menghapus perbatasan pasca-kolonial di banyak Suriah dan Irak, bergabung dengan kelompok-kelompok pemberontak Sunni lainnya yang menentang pemerintahan Syiah di Baghdad. Dengan Kurdi di Irak utara juga melihat kesempatan untuk mengkonsolidasikan otonomi yang lebih besar, sebuah krisis eksistensi ruang Irak.



Dengan peta ini kita bisa melihat dimana Sunni, Syiah, maupun Kurdi. Peta tentang persebaran ideologis ini digambarkan secara menarik dalam sebuah situs http://www.ft.com/ig/sites/2014/isis-map/

Rabu, 24 September 2014

Jangan Dengarkan Asing!

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak "Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak" urai Sukarno di depan Djuanda.

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). "Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara". Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata "Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia". Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai "Let Alone Agreement" yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno "Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia" mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :"Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!" waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia. Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai 'Dana Revolusi Sukarno". Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan. Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya (Agus Santoso)

Rabu, 17 September 2014

Opini Dari Planet Labs

Ahli teknologi masa depan Stewart Brand mengatakan "kita bagai dewa". Cara manusia telah sangat mengubah cara planet bekerja. Sekarang start-up di San Francisco menawarkan bukti baru. Start-up, Planet Labs, sebuah perusahaan pemetaan telah meriset bagaimana gambar Bumi yang menggambarkan berapa banyak orang mempengaruhi planet ini, dan seberapa cepat kita bergerak, tanaman, membangun dan sebaliknya membentuk kembali dunia kita.

"Hal pertama yang Anda perhatikan adalah keindahan," kata Will Marshall, chief executive dari Planet Labs, berbicara foto perusahaannya, diambil pada ketinggian 600 kilometer, sekitar 370 kilometer. "Kemudian Anda membandingkannya dengan gambar yang lebih tua, dan Anda melihat bahwa sesuatu telah berubah -. Sungai telah dipindahkan, ada bangunan baru, reservoir telah dibangun atau dikeringkan"

"Setahun Pembangunan di Ulanqab, Mongolia Dalam"
Pada pertengahan September, Planet Labs akan memiliki sekitar 40 satelit, masing-masing seberat sekitar sembilan kilogram seukuran kotak sepatu, dalam orbit kutub seluruh planet ini. Hal ini bertujuan untuk memiliki lebih dari 100 pada akhir tahun. Setelah itu, perusahaan angka itu dapat memberikan mosaik foto yang hampir lengkap dari hampir semua planet, setiap 24 jam.

"Manusia memiliki dampak seperti itu sekarang," kata Mr Marshall, "satu dari empat gambar Bumi kita menunjukkan pertanian. Anda melihat bukti dari beberapa aktivitas manusia di hampir semua dari mereka. "Bahkan dalam gambar gurun, sulit untuk menemukan sesuatu yang bukan manusia". Kami melihat gambar dari Mars, dan bertanya-tanya di Planet Merah, tetapi untuk beberapa mata aspek yang paling tunggal adalah kesamaan-nya. Untuk Mr Marshall, hiker avid, "Saya biasanya berpikir tentang apa yang akan kita lewatkan jika kita pernah meninggalkan Bumi. Ada kepadatan ini hidup dari kehidupan, geografi kaya ini. "

Planet Labs hampir tidak satu-satunya perusahaan yang bergerak dalam bisnis Bumi melihat. Pada bulan Juni, Google setuju untuk membayar $ 500 juta untuk Skybox Imaging, dan berencana untuk terbang konstelasi sendiri kamera ruang, teratur memperbarui Google Maps dengan gambar real-time. Sejumlah proyek lainnya, termasuk satelit kecil begitu murah bahwa klub peroketan sekolah bisa membeli satu juga sedang diuji.

Lain kali Anda melihatnya, ingatlah bahwa ada geografi manusia baru yang sedang dibangun di atas kita, juga. (BM)

Sumber: http://bits.blogs.nytimes.com/2014/08/13/start-up-provides-a-picture-of-our-shape-shifting-planet/?_php=true&_type=blogs&_r=0